commercial@masuk-ptn.com +62 823-3128-6200

general ยท 17 Juli 2019

[Teruntuk Kamu Yang Sedang Berkecil Hati Karena Kegagalan]

Sebenernya aku mau bahas ini di blog ku tapi waktunya tidak mencukupi, jadi aku meringkasnya di sini.

Hai, gimana kabarnya sekarang? udah lega belum? tapi yang paling penting, udah IKHLAS belum? :)

Aku cuma mau berbagi cerita aja sama kamu nih. Mungkin saat ini aku tidak sedang berada di posisi kamu, tapi aku juga sama seperti kamu yang pernah mengalami kegagalan sebelumnya. Aku hanya ingin berbagi sesuatu yang aku dapatkan di balik kegagalan itu.

Mungkin awalnya kita pernah berpikir, kenapa sih kok aku terus yang gagal? liat orang lain yang santai-santai aja belajarnya kok bisa berhasil. Kalau kayak gitu, mending dari dulu aku males-malesan kayak dia. Aku capek, aku mau berhenti aja.

Hey temanku! itu adalah pemikiran yang salah besar.

Untuk bisa sampai disini, aku harus gagal sebanyak 13 kali, mungkin ini tidak ada apa-apa nya bagi kamu. Mungkin ada yang sudah mengalami kegagalan sebanyak 15 kali, 20 kali, bahkan lebih lagi dari itu. Tapi coba lihat dulu, dari semua kegagalan yang kamu alami, apa yang kamu dapatkan?

Aku gagal di tahun pertama, padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Setelah gagal di ujian mandiri lainnya, aku putuskan untuk break. Aku putuskan untuk memperbaiki diriku dan melihat apa yang salah selama ini dengan memasuki pesantren tahfidz. Disana aku bertemu dengan orang-orang hebat, para hafidzah, ahli kitab, ahli bahasa, dan lainnya. Aku mendapat beberapa jawaban disana yaitu :

1. Mungkin selama ini hati dan pikiranku kotor Jadi Allah ingin membersihkannya sedikit demi sedikit.

2. Mungkin selama ini aku belum mandiri, Allah ingin melatihku untuk mandiri dan belajar menyesuaikan diri dengan orang lain.

3. Mungkin Allah RINDU, kapan aku berinteraksi dengannya dengan sebenar-benarnya interaksi?

4. Mungkin selama ini aku apatis, Allah melatihku untuk saling memberi dan tidak egois.<

5. Mungkin selama ini hati dan lisanku belum jelas, Allah melatihku dengan belajar ikhlas.



Setelah keluar dari sana, aku melanjutkan lagi belajar ku untuk bisa masuk PTN di tahun kedua. Aku ikut les, belajar mati-matian dari bangun tidur sampai tengah malam. Aku sengaja memilih lokasi SBM di Yogyakarta, untuk menambah semangatku karena aku sangat ingin belajar di kota pelajar itu. Pokoknya semua ikhtiar sudah ku lakukan dengan maksimal. Bahkan aku sampai tidak punya teman, semua teman-temanku sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Omongan tetangga pun semakin terdengar tiap harinya. Aku pernah dikatai "Enak ya menghabiskan uang itu?" memang mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena orang lain hanya melihat hasil bukan melihat proses nya.

Tapi lagi-lagi aku gagal di tahun kedua. Aku mengikuti jalur mandiri agar aku bisa kuliah di Jawa Tengah, namun semuanya gagal. Aku menangis, mulai menyalahi diri sendiri lagi, mulai merasa tidak berguna, dan berbagai bentuk cacian terhadap diri sendiri. Tapi aku gak boleh menyerah, kalau aku menyerah artinya aku BENAR-BENAR GAGAL. Aku terus mencoba, sampai pada akhirnya, yang ke-14 kalinya aku baru bisa berhasil lolos di Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung. Aku menangis lagi, Ya Allah aku tidak ingin di Bandung, kenapa seperti ini? :")

Tapi dibalik ini semua, lagi-lagi aku mendapati beberapa jawaban atas pertanyaan "Kenapa harus aku?" :

1. Aku mendapat teman-teman baru dan ditempatkan di tempat yang tepat bersama dengan orang-orang hebat.

2. Ayahku tiba-tiba sakit berat dan mengharuskan untuk di operasi di Hasan Sadikin, dan aku bisa mendapat info mengenai RS dengan mudah melalui teman-temanku terlebih jarak antara kampus dengan RS dekat.

Sehari selepas hari bertambahnya usiaku, aku mendapat kabar bahwa motor ku hilang. Dan mulai saat itu ayah drop sampai kakakku pulang dari perantauan, yang mengharuskan aku menjemput di Husein dan ikut pulang ke rumah. Tidak pernah terbayang jika aku di Yogykarta akan seperti apa nantinya. Dan 2 minggu kemudian, Qadarullah Allah memanggil ayahku :") Aku harus pulang secepat mungkin, dan waktu terasa begitu tepat.

3. Allah menggagalkanku di tahun pertama agar aku bisa lebih lama di rumah dan lebih dekat dengan ayah, karena memang aku tidak pernah tahu akan terjadi seperti ini. Allah memberiku kesempatan untuk Birrul Walidain dengan sungguh-sungguh saat itu.

4. Allah menggagalkanku di tahun kedua pun sama, agar aku bisa dengan mudah mendapat akses dari rumah dengan kampus.

5. Untuk belajar hati dan lisan yang ikhlas ternyata terpakai saat ini, karena takdir datang kepada orang yang tepat.

Dari semua itu, butuh waktu 2 tahun untuk mendapat jawaban dari pertanyaan yang selalu aku tanyakan dalam sujud dan doaku "Kenapa harus aku?" dan Allah menjawabnya "Bersabarlah, aku punya sesuatu yang lebih baik untukmu." Sungguh malu diri ini menanyakan apa yang sudah menjadi pernyataanNya di Lauhul Mahfudz. Sungguh malu, sifat keduniawian ini masih unggul dibanding mempersiapkan untuk akhirat.

Jadi, jika kamu gagal sekarang, bukan berarti kamu akan gagal selamanya, bukan berarti kamu bodoh, kamu tidak berguna, kamu orang yang gagal. BUKAN! Ada maksud tersendiri dan mungkin akan kamu temui jawaban itu esok, 5 hari lagi, 5 bulan lagi, atau bahkan 5 tahun lagi. Wallahu A'lam. Yang harus kamu lakukan adalah terus berusaha, percaya, dan berjanji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku tunggu jawaban dari pertanyaanmu juga! Bahkan,bukankah lebih baik menghabiskan jatah gagal di usia muda, dari pada menghabiskannya di usia tua? seberapa jeli kita untuk mensyukuri nikmat Allah? :) .

Sumber : Anisa Nur Fadilah