Drama merupakan salah satu bentuk seni tertua yang pernah diciptakan manusia. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan refleksi kehidupan — sebuah panggung tempat manusia berbicara kepada dirinya sendiri. Sejak zaman Yunani Kuno hingga era digital saat ini, drama telah berevolusi menjadi berbagai bentuk dan medium: dari teater tradisional hingga sinetron, dari film layar lebar hingga serial web. Namun esensinya tetap sama: menceritakan konflik manusia melalui dialog, tindakan, dan emosi.
Artikel ini akan mengupas secara mendalam tentang pengertian drama, sejarah perkembangannya, unsur-unsur yang membangunnya, jenis-jenis drama, serta peran dan pengaruhnya terhadap masyarakat modern.
1. Pengertian Drama
Secara etimologis, kata drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, bertindak, atau beraksi. Dalam konteks kesenian, drama adalah karya sastra yang berbentuk dialog dan diperuntukkan untuk dipentaskan. Drama menggabungkan unsur sastra (cerita dan dialog) dengan seni pertunjukan (akting, musik, dan tata panggung).
Menurut beberapa ahli:
-
Aristoteles, dalam karyanya Poetika, menyebut drama sebagai “tiruan tindakan manusia” (mimesis of action) yang memiliki kesatuan waktu, tempat, dan peristiwa.
-
H. B. Jassin mendefinisikan drama sebagai “seni yang mengungkapkan kehidupan manusia dalam gerak.”
-
Sumardjo dan Saini K. M. menyatakan bahwa drama adalah “cerita dalam bentuk dialog yang disusun untuk dipentaskan.”
Dengan demikian, drama dapat dipahami sebagai karya seni yang menampilkan konflik batin dan sosial manusia melalui percakapan dan gerak di atas panggung atau media lain.
2. Sejarah dan Perkembangan Drama
a. Drama Klasik di Dunia Barat
Drama berakar kuat di Yunani Kuno sekitar abad ke-5 SM. Saat itu, drama merupakan bagian dari ritual keagamaan untuk menghormati dewa Dionysus. Bentuk drama terbagi menjadi dua:
-
Tragedi, yang menggambarkan penderitaan dan nasib malang tokoh utama. Contoh karya terkenal: Oedipus Rex karya Sophocles.
-
Komedi, yang menghadirkan kritik sosial dalam bentuk humor. Tokohnya sering mewakili masyarakat biasa, seperti dalam karya Aristophanes.
Kemudian, drama Romawi melanjutkan tradisi Yunani dengan lebih banyak menonjolkan hiburan dan kekerasan fisik. Setelah itu, pada abad pertengahan di Eropa, drama berkembang menjadi drama liturgi yang dipentaskan di gereja dengan tema-tema religius.
b. Drama di Era Renaisans
Abad ke-16 menjadi masa keemasan drama dunia, terutama di Inggris. Muncullah nama besar William Shakespeare, yang karya-karyanya seperti Hamlet, Macbeth, dan Romeo and Juliet menjadi mahakarya universal. Di masa ini, drama mulai mengeksplorasi psikologi manusia, bukan hanya nasib dan moralitas.
c. Drama di Indonesia
Di Indonesia, cikal bakal drama dapat ditemukan pada tradisi lisan dan pertunjukan rakyat, seperti wayang, ketoprak, lenong, randai, dan ludruk. Bentuk-bentuk tersebut sudah memuat elemen dialog, peran, musik, dan cerita.
Drama modern Indonesia mulai berkembang pada masa Balai Pustaka (1920-an), ketika naskah-naskah berbahasa Indonesia mulai diterbitkan. Tokoh penting pada masa ini antara lain:
-
Rustam Effendi dengan karya Bebasari (1926), yang dianggap sebagai drama modern pertama Indonesia.
-
Sanusi Pane, Armijn Pane, dan Utuy Tatang Sontani, yang memperkuat fondasi drama Indonesia dengan tema perjuangan dan kemanusiaan.
Setelah kemerdekaan, muncul teater-teater eksperimental seperti Teater Populer (Teguh Karya), Teater Koma, dan Teater Mandiri (Putu Wijaya) yang membawa pembaruan dalam estetika dan isi pertunjukan.
3. Unsur-Unsur Drama
Sebuah drama yang baik dibangun oleh berbagai unsur, baik intrinsik maupun ekstrinsik. Berikut adalah unsur-unsur pokoknya:
a. Tema
Tema merupakan ide dasar atau gagasan utama yang mendasari seluruh cerita. Tema bisa berupa cinta, perjuangan, keserakahan, keadilan, atau konflik sosial.
b. Alur (Plot)
Plot adalah rangkaian peristiwa yang saling berhubungan dan membentuk cerita. Struktur alur drama biasanya meliputi:
-
Eksposisi (pengenalan)
-
Konflik mulai muncul
-
Klimaks (puncak ketegangan)
-
Antiklimaks
-
Penyelesaian (resolusi)
c. Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah pelaku cerita, sementara penokohan adalah cara pengarang menggambarkan watak tokoh. Dalam drama, tokoh harus hidup dan realistis karena ia akan diwujudkan melalui akting di atas panggung.
d. Dialog
Dialog merupakan medium utama drama. Melalui dialog, penonton memahami karakter, konflik, dan tema cerita. Dialog harus alami namun bermakna.
e. Setting (Latar)
Latar meliputi waktu, tempat, dan suasana. Dalam drama, latar diwujudkan secara visual melalui tata panggung dan properti.
f. Konflik
Konflik adalah inti dari drama. Tanpa konflik, tidak ada drama. Konflik bisa bersifat internal (dalam diri tokoh) atau eksternal (antar tokoh, atau antara tokoh dan masyarakat).
g. Amanat
Amanat adalah pesan moral atau refleksi kehidupan yang ingin disampaikan pengarang kepada penonton.
4. Jenis-Jenis Drama
Berdasarkan bentuk, isi, dan penyajiannya, drama dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis.
a. Berdasarkan Isinya
-
Tragedi — menampilkan kisah sedih atau nasib malang tokoh utama. Contoh: Hamlet.
-
Komedi — berisi kisah lucu yang menghibur, sering kali menyindir perilaku manusia.
-
Tragikomedi — perpaduan antara tragedi dan komedi, menggambarkan kehidupan yang pahit sekaligus jenaka.
-
Melodrama — menonjolkan perasaan berlebihan dan sering menyentuh emosi penonton.
-
Farce — komedi yang kasar dan penuh adegan lucu yang tidak realistis.
-
Opera dan Musikal — drama yang seluruh atau sebagian dialognya dinyanyikan.
b. Berdasarkan Bentuk Penyajiannya
-
Drama Panggung — dipentaskan langsung di depan penonton.
-
Drama Radio — hanya mengandalkan suara dan dialog tanpa visual.
-
Drama Televisi (Sinetron) — disiarkan melalui media elektronik.
-
Drama Film — disajikan dalam bentuk sinematografi dengan pengambilan gambar.
-
Drama Digital — drama modern berbasis media daring seperti YouTube atau platform streaming.
5. Fungsi dan Peran Drama dalam Kehidupan
Drama memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan budaya manusia. Fungsi-fungsi tersebut antara lain:
a. Sebagai Sarana Hiburan
Drama memberikan kesenangan emosional melalui cerita yang menarik dan akting yang memukau. Penonton dapat merasakan emosi tokoh tanpa harus mengalaminya langsung.
b. Sebagai Sarana Pendidikan
Banyak drama menyampaikan nilai moral, sosial, atau politik. Drama dapat menjadi media pembelajaran karakter, empati, dan berpikir kritis.
c. Sebagai Kritik Sosial
Sejak zaman dahulu, drama digunakan untuk menyuarakan kritik terhadap ketidakadilan atau kebobrokan masyarakat. Misalnya, karya Teater Koma di Indonesia kerap menyindir isu korupsi dan politik.
d. Sebagai Media Ekspresi Diri
Drama memungkinkan aktor, sutradara, dan penulis naskah menyalurkan pikiran dan perasaan mereka secara artistik.
e. Sebagai Dokumentasi Budaya
Melalui drama, nilai, adat, dan tradisi suatu masyarakat dapat direkam dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
6. Proses Penciptaan Drama
Mewujudkan sebuah drama memerlukan proses kreatif yang panjang dan kolaboratif. Tahapan utamanya meliputi:
-
Penulisan Naskah — dimulai dari ide, riset, hingga penulisan dialog dan adegan.
-
Casting dan Latihan — memilih aktor yang tepat, kemudian melakukan latihan intensif untuk memahami karakter dan emosi.
-
Tata Artistik — mencakup desain panggung, kostum, pencahayaan, dan musik pendukung.
-
Sutradara — berperan mengarahkan seluruh elemen agar pementasan berjalan harmonis.
-
Pementasan atau Produksi — tahap akhir di mana karya ditampilkan kepada publik.
7. Drama di Era Digital
Perkembangan teknologi mengubah wajah drama secara signifikan. Kini, banyak drama tidak lagi dipentaskan di teater, melainkan diproduksi dalam bentuk drama televisi, film streaming, hingga web series.
Platform seperti Netflix, Viu, WeTV, dan YouTube membuka ruang baru bagi sineas muda untuk mengekspresikan diri. Penonton tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu; drama dapat dinikmati di mana saja.
Fenomena drama Korea, misalnya, telah menjadi gelombang budaya global (Hallyu Wave) yang mempengaruhi gaya hidup, musik, bahkan fashion dunia. Serial seperti Crash Landing on You dan The Glory menunjukkan bagaimana drama mampu menggugah emosi sekaligus menyebarkan nilai-nilai budaya.
8. Tantangan dan Masa Depan Drama
Meskipun teknologi membuka peluang, ada tantangan besar yang dihadapi dunia drama:
-
Komersialisasi berlebihan yang membuat kualitas cerita sering dikorbankan demi rating.
-
Krisis naskah orisinal akibat tren remake dan adaptasi berulang.
-
Persaingan global yang menuntut produksi lebih kreatif dan relevan.
Namun demikian, masa depan drama tetap cerah. Dengan munculnya generasi baru penulis, aktor, dan sutradara, serta dukungan platform digital, drama akan terus berevolusi tanpa kehilangan esensinya: menceritakan kehidupan manusia.
9. Nilai Filosofis dalam Drama
Drama bukan hanya seni panggung, melainkan juga cermin eksistensi manusia. Melalui konflik, penderitaan, dan kebahagiaan para tokoh, drama mengajarkan penonton untuk memahami hakikat hidup:
-
Bahwa hidup adalah perjuangan antara harapan dan kenyataan.
-
Bahwa setiap manusia memegang peran dalam “drama kehidupan” nyata.
-
Bahwa empati dan pengertian adalah jembatan antara individu dan masyarakat.
Dalam konteks ini, drama menjadi alat introspeksi kolektif, yang menuntun manusia mengenali dirinya melalui kisah orang lain.
Drama telah menjadi bagian tak terpisahkan dari peradaban manusia. Ia lahir dari kebutuhan manusia untuk mengekspresikan diri, memahami dunia, dan mengomunikasikan nilai-nilai kehidupan. Dari teater Dionysus di Yunani Kuno hingga layar ponsel masa kini, drama terus berubah bentuk, namun tetap menyentuh sisi terdalam jiwa manusia.
Sebagai karya seni, drama mengajarkan kita untuk merasakan, berpikir, dan memahami. Ia menuntun kita menyadari bahwa setiap tawa dan air mata di panggung sebenarnya adalah potret dari diri kita sendiri.
MASUK PTN